Perjalan Panjang: Bagian Pertama
Iya. Karangan apa yang dibuka dengan kata "iya?" tapi kenyataannya begitu. Selamat datang, kubuka karangan ini dengan kata "iya". Iya, karena aku berhasil memutuskan sesuatu yg beda di penyambutan 20 tahunku. Keren sekali, hampir selalu kurayakan sendiri. Tapi dulu di 19, terima kasih kepada teman2 sayang yg bersama-sama memberikan kejutan. Ah juga di 6, untuk ibuk dan papa yang entah kenapa memutuskan merayakan ulang tahunku dengan mengundang semua teman. Ah aku lupa, di... Ah aku benar-benar lupa di usia berapa, aku memutuskan membuat perayaan lagi, dengan mengundang, yah entahlah, yang tak datang dan memberikan kadonya diam2 esok harinya. Betapa ingin kuungkit peristiwa itu dengannya.
Kini sudah 20 tahun, cepat, hei kenapa cepat sekali sudah 20? Lihatlah hidupku yang masih seperti ini saja. Aku merasa aku kurang sekali beryukur, untuk itu kini aku harus berubah mensyukuri semuanya di usia gila ini. Hahaha. Kalian tahu itu, sesuatu yg kau lakukan sebelum bertaubat? Sesuatu yg hanya sekali saja? Ah kesalahan terakhir maksudku. Aku selalu berputar-putar. Abaikan. Jadi, sebelum aku berubah menjadi manusia yang sangat bersyukur dan 'nriman' sebelum itu aku akan mengeluh dulu, sampai puas untuk terakhir kalinya. Baru aku akan memuja larik puisi dari Goenawan Muhammad, "Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata."
Perkenalkan aku gadis yang baru saja menginjak usia 20 tahunnya. Apa yg istimewa dari 20? Bagiku ini keren. 20. Antara matang dan harus matang. Usia yang keren. Lalu apa yang asyik dari perayaan ulang tahun yang dirayakan sendirian di atas kasur kamar bersama serakan buku, laptop yang menyala semalaman, dan handphone yang paket datanya nyala selama 24 jam tanpa pemberitahuan pesan masuk? Ah mungkin pada hari ulang tahunku akan ada beberapa pesan, "haiii selamat ulang tahun semoga bla bla bla." Apa yang asyik dari semua itu? Setidaknya walaupun tak ada yang istimewa, aku berprinsip aku harus membuatnya istimewa walaupun ini berasal dari diriku dan untuk diriku? Tak paham? KURAYAKAN SENDIRI. Aku akan pergi dari rumah. Sendirian. Aku tidak kabur atau diusir, jangan berpikiran yang buruk tentang ini. Aku mau liburan. Liburan yang kutepatkan pada 20 tahunku. Aku mau ada yang keren di hari itu. Hanya itu.
Kini sudah 20 tahun, cepat, hei kenapa cepat sekali sudah 20? Lihatlah hidupku yang masih seperti ini saja. Aku merasa aku kurang sekali beryukur, untuk itu kini aku harus berubah mensyukuri semuanya di usia gila ini. Hahaha. Kalian tahu itu, sesuatu yg kau lakukan sebelum bertaubat? Sesuatu yg hanya sekali saja? Ah kesalahan terakhir maksudku. Aku selalu berputar-putar. Abaikan. Jadi, sebelum aku berubah menjadi manusia yang sangat bersyukur dan 'nriman' sebelum itu aku akan mengeluh dulu, sampai puas untuk terakhir kalinya. Baru aku akan memuja larik puisi dari Goenawan Muhammad, "Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata."
Perkenalkan aku gadis yang baru saja menginjak usia 20 tahunnya. Apa yg istimewa dari 20? Bagiku ini keren. 20. Antara matang dan harus matang. Usia yang keren. Lalu apa yang asyik dari perayaan ulang tahun yang dirayakan sendirian di atas kasur kamar bersama serakan buku, laptop yang menyala semalaman, dan handphone yang paket datanya nyala selama 24 jam tanpa pemberitahuan pesan masuk? Ah mungkin pada hari ulang tahunku akan ada beberapa pesan, "haiii selamat ulang tahun semoga bla bla bla." Apa yang asyik dari semua itu? Setidaknya walaupun tak ada yang istimewa, aku berprinsip aku harus membuatnya istimewa walaupun ini berasal dari diriku dan untuk diriku? Tak paham? KURAYAKAN SENDIRI. Aku akan pergi dari rumah. Sendirian. Aku tidak kabur atau diusir, jangan berpikiran yang buruk tentang ini. Aku mau liburan. Liburan yang kutepatkan pada 20 tahunku. Aku mau ada yang keren di hari itu. Hanya itu.
Komentar
Posting Komentar